Selain Melatih Keterampilan Menembak, Prajurit Yonif 3 Marinir Juga Mengasah Kemampuan Memanah


SIDOARJO – Guna menjaga kemampuan dan kemahiran bertempur, para Prajurit Bataliyon Infanteri (Yonif) 3 Marinir Sidoarjo, melakukan latihan memanah di lapangan panahan Yonif 3 Brigif-2 Marinir Sidoarjo, pada Selasa (20/8).

Latihan tersebut dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan prajurit Yonif 3 Marinir dalam menjamin kesiapan tempur satuan dalam menggunakan alat tempur tradisional (Panahan,red).

“Selain latihan menembak, para prajurit juga dilatih rutin setiap hari, guna mengasah, memelihara dan menjaga serta meningkatkan kemampuan tempur personel Yonif 3 Marinir dalam menggunakan alat tempur panahan” kata Wakil Komandan Yonif 3 Marinir, Mayor (Mar) Widi Permono, usai melatih para prajurit latihan memanah, Selasa (20/8).

Mayor (Mar) Widi menjelaskan bahwa, latihan memanah ini juga bertujuan menjaring bibit-bibit pemanah andal, yang mampu bersaing dan berprestasi di tingkat internasional/kejuaraan dunia, sehingga nantinya Indonesia memiliki generasi pemanah-pemanah baru yang membanggakan dan mengharumkan nama Indonesia.

“Yang paling penting lagi, olahraga ini bisa membangkitkan nasionalisme dan cinta tanah air, melalui prestasi yang diukir dalam olahraga memanah,” ujar Mayor (Mar) Widi.

“Perlu diingat, olahraga panahan adalah olahraga Asia. Siapa pun juara di Asia, pasti juara di dunia. Ini salah satu target yang ingin kita wujudkan dan capai, sebagai salah satu negara Asia. Saya ingin ada pemanah Indonesia dari prajurit Marinir yang bisa menjadi juara dunia,” imbuhnya.

Menurut dia, Panahan merupakan salah satu olahraga tertua di dunia, olahraga ini sudah mulai ada sejak 5000 tahun yang lalu, awalnya digunakan untuk berburu dan kemudian berkembang sebagai senjata dalam pertempuran dan kemudian sebagai olahraga ketepatan.

Tentu menjadi pertanyaan besar kenapa panah tetap bertahan dalam rentang waktu yang cukup lama. Panah digunakan lintas peradaban, lintas keyakinan dan lintas generasi.

“Tentu ada ‘rahasia’ tersenyembunyi dari panah ini. Tidak hanya sebagai senjata atau cabang olahraga saja tetapi juga sebagai alat untuk membentuk kepribadian seseorang prajurit,” tuturnya.

Jika kita tilik kilas balik sejarah seseorang yang memiliki keahlian memanah memiliki kepribadian yang bagus, kematangan mental serta juga cara pikirnya.

“Aktivitas memanah mampu dijadikan sebagai sarana mengubah karakter karena terjadinya aktivitas pengulangan dalam memanah. Sementara kita tahu sesuatu yang dilakukan secara berulang akan membentuk kebiasaan, kebiasaan yang terus dipupuk akan membentuk sebuah karakter,” terangnya.

Selain itu, Mayor (Mar) Widi juga menambahkan bahwa, aktivitas memanah juga memiliki empat langkah latihan, yang mana jika ke empat langkah ini diulang-ulang secara teratur akan mampu mengubah karakter seseorang.

“Empat langkah tersebut adalah, Calm (Ketenangan), Focus (Fokus), Brave (Keberanian) dan Win (Kemenangan),” tambahnya.

Namun, demi meraih kemenangan hal-hal itu harus dipinggirkan lebih dahulu. Saat mengawali aktivitas memanah setiap orang butuh ketenangan, maka latihan pertama yang terus dilatih dalam panahan adalah ketenangan.

Pada langkah kedua saat menarik anak panah dibutuhkan fokus, fokus pada satu tujuan yaitu papan target. Langkah ke tiganya adalah ketika menarik anak panah disinilah keberanian, berani untuk melepaskannya. Dan yang terakhir adalah ketika anak panah mencapai sasarannya itulah win (kemenangan) .

“Tetapi untuk menjadi pemanah yang unggul tentu tidak sekali jadi, butuh waktu untuk latihan, niat yang kuat, kemauan yang kuat serta kesabaran. Maka itu, para prajurit Yonif 3 Marinir terus rutin berlatih memanah agar banyak sekali kebaikan yang didapat. Jadi panahan bisa mengubah karakter sebab 4 hal tersebut diulang-ulang,” pungkasnya. (red)