Laporkan Jaksa dan Hakim PN Bangkalan, As’ad Ulul Albab Datangi Kejati Jatim dan Pengadilan Tinggi Surabaya


Surabaya – Merasa tak mendapat keadilan untuk ayahnya sebagai terdakwa kasus dugaan pelecehan seksual, As’ad Ulul Albab laporkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangkalan ke Kejaksaan Tinggi Jawa Timur (Kejati Jatim), Jum’at (21/5).

Dengan didampingi Tim Advokasi JPKP Nasional DPD Jatim, Ulul Albab juga melaporkan majelis hakim yang menyidangkan perkara ayah kandungnya ini ke Pengadilan Tinggi Surabaya.

Ia anggap dalam kasus tersebut ditemukan kejanggalan atau tak rasional yang mendera terdakwa Muhmidun Syukur. Bahkan pada akhirnya, hakim Pengadilan Negeri (PN) Bangkalan menyatakan ayah dari Ulul Albab ini bersalah.

Baca Juga :   Satgas TMMD Tuban Bantu Penanggulangan Banjir

“Kita melaporkan jaksa penuntut umum yang menyidangkan kasus ini ke Kejati Jatim. Karena kita menganggap, jaksa saat itu tidak sesuai fakta,” kata Christofer Chandra Yahya, Tim Advokasi JPKP Nasional DPD Jatim.

Christofer menambahkan, selain melaporkan jaksa, pihaknya juga mengirim surat ke Pengadilan Tinggi agar memberikan putusan seadil-adilnya terkait kasus tersebut.

Tidak hanya itu, pihaknya juga turut melaporkan hakim Pengadilan Negeri Bangkalan ke Komisi Yudisial.

Sementara itu, As’ad Ulul Albab, putra dari terdakwa Muhmidun Syukur mengatakan, dengan adanya laporan-laporan ini, pihaknya berharap bisa mendapatkan keadilan untuk sang ayah.

Baca Juga :   BPBD Jatim Tangani Sampah di Sungai Buntung Sidoarjo

“Saya berharap ayah dapat segera dibebaskan,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, As’ad mengadukan nasib ayahnya ke Polda Jatim.

Sang ayah sendiri saat ini tengah terbelit tuduhan kasus dugaan pelecehan seksual.BPengaduan As’ad ini pun disampaikannya ke Polda Jatim pada Rabu (12/4).

Kasus tersebut berawal dari laporan NS, yang mengaku telah dilecehkan oleh ayahnya. Laporan NS itu pun, pada akhirnya sampai ke meja pengadilan.

“Kasus sudah sampai persidangan, bahkan sudah vonis,” ujarnya saat itu

Dipersidangan inilah terungkap beberapa fakta yang dianggapnya janggal, diantaranya adalah, jaksa penuntut umum yang dianggap terlalu banyak beropini, meski fakta persidangan lemah.

Baca Juga :   Kebut Vaksinasi, 10 Daerah di Jawa Timur Tuntas Vaksinasi 100% Tahap Pertama Dosis Pertama

“Misalnya hasil visum tidak ditunjukkan dalam persidangan, sehingga seharusnya tidak terbukti adanya tanda – tanda kekerasan pada korban dan lain sebagainya,” kata dia.

Dengan adanya kasus ini, ia menyebut telah terjadi pembunuhan karakter terhadap sang ayah yang nota bene adalah seorang kepala sekolah sebuah SMP Swasta di Bangkalan, Madura.

Ia juga merasa ada perlakuan tidak adil terhadap sang ayah.

Terkait dengan proses hukumnya sendiri, ia mengaku sudah melakukan banding.

Proses banding pun, sudah dilayangkan setelah putusan di tingkat pengadilan negeri selesai.