Kaper BKKBN Jatim: Pemerintah Indonesia Sedang Berjuang Kurangi Angka Stunting


Surabaya – Kepala Perwakilan (Kaper) BKKBN Provinsi Jawa Timur, Sukaryo Teguh Santoso, mengatakan saat ini Pemerintah Indonesia sedang berjuang untuk mengurangi angka stunting.

Stunting merupakan ancaman serius bagi generasi penerus.Hal ini disampaikan saat membuka Pelatihan Teknis Konseling Calon Pengantin dan Bina Keluarga Balita Holistik Integratif (BKB HI) bagi Penyuluh Keluarga Berencana Melalui E-Learning Tahun 2021, Kamis (22/7).

“Keadaan yang biasa disebut dengan gagal tumbuh ini akan sangat memengaruhi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang mana juga akan mengurangi kemampuan daya saing bangsa kita. Hal ini dikarenakan keadaan stunting, tidak hanya mengganggu pertumbuhan secara fisik yang biasa ditandai dengan tubuh yang pendek dan kerdil namun juga dapat mempengaruhi pertumbuhan otak anak. Hal ini tentunya akan mempengaruhi kemampuan dan prestasi sekolah, produktivitas serta kreativitas di usia-usia produktif,” ujar pak Teguh panggilan akrab Kaper BKKBN Provinsi Jawa Timur.

Pak Teguh juga menjelaskan, di Indonesia, angka prevalensi stunting ini cenderung tinggi, yakni 27,6 persen di tahun 2019 dan diperkirakan akan naik karena kondisi pandemi saat ini karena faktor ekonomi, kemiskinan, dan lain sebagainya.

“Kita tahu bersama bahwa saat ini anak-anak yang tergolong stunting jika tumbuh sebagai remaja akan menjadi remaja yang pendek disebabkan kekurangan gizi kronis jangka panjang. Stunting memiliki ciri diantaranya kemampuan mental 10-15 dibawah rata-rata. Jika remaja yang stunting berkeluarga maka beresiko memiliki bayi yang berat badannya rendah. Selain itu juga berisiko kematian saat melahirkan. Selain itu jika sudah lansia akan menjadi lansia yang kurang gizi dan akan sangat berpengaruh pada kondisi fisiknya yang lemah dan rentan terhadap penyakit,” katanya.

Baca Juga :   Ratusan Pelajar Dipulangkan Pasca Ditangkap dan Diamankan di Mapolda

Jika dilihat perkembangannya 1 dari 3 balita di Indonesia, meskipun sudah terjadi penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2013 balita stunting di Indonesia sebanyak 37,2% (Riskesdas, 2013).

Pada tahun 2018 balita stunting di Indonesia sebanyak 30,8% (Riskesdas, 2018). Pada tahun 2019 balita stunting di Indonesia sebanyak 27,67% (SSGBI, 2019). Meskipun angka balita stunting sudah menurun tetapi masih diambang batas maksimal WHO yaitu 20%.

“Stunting disebabkan oleh faktor multidimensi yang golongkan menjadi faktor sensitif dan faktor spesifik. Faktor sensitif termasuk kemiskinan, pendidikan, sanitasi, akses air bersih, yang memiliki persentase 70% dari upaya pencegahan stunting. Sedangkan faktor spesifik merupakan pendekatan nutrisi kepada bayi itu sendiri yang memiliki persentase 30% dari upaya pencegahan stunting,” terang Pak Teguh.

Baca Juga :   Pemprov Jatim Terima Penghargaan dari ANRI

KB merupakan faktor yang berbicara tentang aspek perkawinan, apakah pernikahan dipersiapkan dengan matang atau tidak, menurut Pak Teguh aspek perkawinan itu meliputi :1. usia kawin. 2. 4 T (Terlalu muda usia istri saat hamil, Terlalu tua usia istri saat hamil, Terlalu banyak anak, Terlalu dekat jarak lahir anak). 3. KB lebih menekankan kepada kepatuhan PUS (Pasangan Usia Subur). menggunakan KB atau tidak 4. Pengasuhan orang tua mempunyai peran besar dalam upaya pencegahan stunting. Keluarga yang aktif dalam kegiatan BKB kecenderungan untuk memiliki anak stunting semakin kecil.

“Ada 3 momen strategis dalam pencegahan stunting yaitu Pra Nikah, Hamil, dan Pasca Persalinan. Saat pra nikah calon pengantin melakukan skrining dan pembekalan kespro, serta mengkonsumsi multi mikronutrien dilakukan 3 bulan sebelum menikah. Pada masa hamil calon orang tua melakukan ANC (monitor pertumbuhan janin) di Bidan atau dokter, mengkonsumsi nutrisi dan vitamin untuk ibu hamil, serta melakukan perencanaan KB, PP dan kespro. Sedangkan untuk masa pasca persalinan memiliki momentum – momentum yang sangat strategis yaitu penggunaan metode kontrasepsi pasca persalinan, pemberian ASI secara eksklusif, Bina Keluarga Baduta, Bina Keluarga Balita, Pemberian MPASI bagi balita, dan bantuan untuk keluarga yang beresiko stunting,” ungkap pak Teguh.
 

Baca Juga :   Gubernur Jatim Tinjau Proses Vaksinasi di Gresik

Peran BKKBN dalam upaya percepatan penurunan stunting dengan pendekatan hulu untuk mencegah kelahiran bayi stunting.

BKKBN menggunakan konsep pendampingan keluarga yang dilakukan secara kolaboratif antara bidan yang ada di desa, institusi masyarakat pedesaan (IMP), dan PKK (kader).

Bidan menjadi pusat rujukan medis termasuk gizi yang ada di desa, dan PKK menjadi sebuah tenaga yang turun langsung.

“IMP termasuk sub PPKBD, PPKBD, kader, yang memiliki data mikro. Sasaran dari pendampingan keluarga ini adalah keluarga yang beresiko tinggi melahirkan bayi stunting dan remaja calon pengantin. Area tempur BKKBN ada di lapangan yang akan memanfaatkan kader yang ada desa dan mitra. Ini merupakan tanggung jawab PKB untuk memantau 3 unsur pencegahan stunting berjalan dengan baik,” terangnya.

“Jadikan kampung KB sebagai inkubator pencegahan stunting melalui kepatuhan keluarga dalam pengasuhan 1000 HPK dan pendampingan terhadap calon pengantin di desa yang memiliki kampung KB. Jika percepatan penurunan stunting di kampung KB bisa berjalan dengan baik maka akan dilakukan replikasi ke desa-desa lain. Percepatan penurunan stunting tidak bisa dilepaskan dari kampung KB,” pungkas Pak Teguh.