Jaksa Tuntut 3,5 Tahun, Hakim Vonis Bandar Pil Koplo 6 Tahun Penjara


Surabaya – Sidang dengan agenda pembacaan putusan (vonis) perkara kepemilikan 30.000 pil double L yang menjerat terdakwa Abd Majid (20) kembali digelar di Pengadilan Negeri Surabaya.

Dalam persidangan yang digelar di di ruang Garuda 2 Pengadilan Negeri Surabaya, majelis Hakim yang diketuai oleh Johanis Hehamony menjatuhkan vonis kepada terdakwa dengan pidana selama enam (6) tahun penjara.

Dalam membacakan amar putusannya, majelis hakim menyebutkan bahwa terdakwa Abd Majid telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja tanpa ijin menguasai pil double L sebanyak 30.000 butir.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Abd Majid telah terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 197 UU RI No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan, menjatuhkan pidana selama enam tahun penjara,”ucap hakim Johanis Hehamony, Selasa (18/2).

Baca Juga : Bertemu Gubernur, Ketua DPD RI Siap Dukung Perpres Percepatan Pembangunan di Jatim

Selain hukuman badan, hakim juga menjatuhkan pidana denda sebesar Rp 100 juta subsidair tiga bulan kurungan.

Dalam pertimbangannya, majelis menilai hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa telah meresahkan masyarakat.

“Hal yang meringankan terdakwa mengakui perbuatannya,”kata hakim Johanis.

Atas putusan tersebut, terdakwa Abd Majid menyatakan pikir-pikir, begitu juga Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hadi Winarno.

“Pikir pikir pak hakim,” ujar terdakwa Abd Majid.

Baca Juga : Gubernur Khofifah Raih Penghargaan Tokoh Perempuan Jawa Timur 2019

Vonis yang dijatuhkan oleh majelis hakim ini lebih berat dari tuntutan JPU yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama tiga tahun dan enam bulan serta pidana denda sebesar Rp 2 juta subsidair 2 bulan kurungan.

Kasus ini bermula saat terdakwa melakukan penjualan (mengedarkan) pil double L di berbagai wilayah Jawa Timur seperti Batu, Malang, Mojokerto, dan Sidoarjo.

Kemudian terdakwa ditangkap oleh saksi Roni Kristiawan dan saksi Eko Pendik yang merupakan petugas kepolisian dari Polsek Dukuh Pakis Surabaya. (son)