Eksepsi Ditolak, Pengacara Terdakwa Sebut Kasus Pencabulan Sudah Kadaluarsa


Surabaya – Pengadilan Negeri Surabaya kembali menggelar sidang perkara dugaan pencabulan dengan terdakwa Hanny Layantara.

Sidang yang digelar di ruang sidang Cakra Pengadilan Negeri Surabaya dengan agenda pembacaan nota keberatan (eksepsi) terdakwa, Kamis (04/06

Dalam persidangan, Nota Keberatan Hanny Layantara terdakwa dalam kasus dugaan pencabulan terhadap jemaatnya IW (26), mendapat penolakan dalam putusan sela yang dibacakan majelis hakim.

Jeffry Simatupang, penasihat hukum (PH) terdakwa Hanny Layantara, saat ditemui usai persidangan menyampaikan bahwa dalam putusan sela dinyatakan perkara akan diperiksa dalam pokok perkaranya.

“Artinya eksepsi kami tidak dapat diterima,” ucap Jeffry.

Baca Juga : Forkopimda Jatim Tinjau Penerapan Protokol Kesehatan di Wilayah Gresik

Jefry juga menambahkan akan mempersiapan pembuktian kebenaran materiil terkait apakah kliennya melakukan tindak pidana seperti yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sabetania R. Paembonan dan Rista Erna dari Kejaksaan Tinggi Jatim.

“Minggu depan tentu akan hadir saksi dari kejaksaan dari berkas (berita acara pemeriksaan). Hal yang pakem saksi yang pertama dihadirkan harus saksi korban,” imbuhnya.

Lebih lanjut Jefrry menyampaikan terkait tindak pidana kliennya yang sudah kadaluarsa. Karena menurutnya, kasus dugaan pencabulan ini terjadi sudah 14 tahun yang lalu, sedangkan ancaman hukumannya 15 tahun penjara.

“Kami tetap pada eksepsi kami bahwa tindak pidana kadaluarsa. Karena ancaman 15 tahun, masa kadaluarsanya 12 tahun, ini sudah 14 tahun,” katanya.

Jeffry juga berharap agar kejaksaan dapat menghadirkan saksi-saksi yang sudah di sumpah.

Baca Juga : PDI Perjuangan Trenggalek Kantongi Bacawabub 2024

“Jangan nanti beralasan saksi tidak dapat hadir lalu dibacakan, jelas nanti kami akan keberatan,” tandasnya.

Terpisah, JPU Rista Erna saat dikonfirmasi melalui pesan singkat terkait tanggapannya atas putusan sela majelis hakim belum memberikan komentar.

Seperti diketahui, kasus ini mencuat setelah korban melalui juru bicara keluarga melakukan pelaporan ke SPKT Polda Jatim dengan nomor LPB/ 155/ II/ 2020/ UM/ SPKT, pada Rabu 20 Februari 2020.

Berdasarkan keterangan, korban mengaku telah dicabuli selama 17 tahun, terhitung sejak usianya 9 tahun hingga saat ini 26 tahun. Namun, dari hasil pengembangan terakhir pencabulan terjadi dalam rentang waktu 6 tahun, ketika usia korban masih 12 tahun hingga 18 tahun.

Baca Juga : Bertambah 292 Orang, Total Pasien Covid-19 Sembuh Jatim Mencapai 1.091 Orang

Berdasar laporan tersebut, kepolisian akhirnya melakukan penyelidikan dan menetapkan pendeta Hanny Layantara sebagai tersangka karena dalam hasil gelar perkara ada kesesuaian antara keterangan saksi, korban, tersangka dan barang bukti yang ditemukan.

Dalam perkara ini, penyidik menjerat tersangka dengan Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak Pasal 82 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan atau Pasal 264 KUHP dengan ancaman hukuman 7-9 tahun. (Jsw/son)