Ditreskrimsus Polda Jatim Bongkar Sindikat Pembuatan Ijazah Palsu


Surabaya – Subdit V/Siber Ditreskrimsus Polda Jatim menggelar konferensi pers tentang penjualan hasil manipulasi dan atau pemalsuan data berupa ijazah melalui media sosial (Medsos) Facebook (FB), Instagram (IG) dan juga Whatshapp (WA).

Dalam keterangan rilisnya, Kabid humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko menyebutkan bahwa kejadian ini diketahui sekitar bulan Mei tahun 2021 dan dari pengungkapan ini subdit V/Siber Ditreskrimsus Polda Jatim mengamankan dua orang tersangka.

“Keduanya melakukan aktifitas Illegal memalsukan ijazah dan menawarkan pembuatan ijazah palsu di medsos. Dari pengakuan kedua pelaku, hasilnya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi,” kata Kabid humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko, Selasa (22/6).

Baca Juga :   Kapolda Jatim Apresiasi 6 Polres Jajaran, Penyandang Predikat Pelayanan Prima

Sementara itu AKBP Zulham, Wadirreskrimsus Polda Jatim menjelaskan, bahwa modusnya sejak akhir tahun 2019, dua pelaku menawarkan di medsos. Ada 9 jenis produk yang dibuat oleh kedua pelaku dengan variasi harga yang berbeda beda.

“Untuk ijazah SD dipatok 500 ribu, SMP 700 ribu, SMA/SMK 800 ribu, ijazah S1 2 juta, ijazah S2 2,5 juta, KTP 300 ribu, KK 300 ribu, akta kelahiran 250 ribu dan sertifikat pelatihan satpam 500 ribu,” jelas Wadirreskrimsus Polda Jatim

Baca Juga :   Kapolda Pimpin Upacara Korps Rapor Kenaikan Pangkat Anggota Polri Polda Jatim Periode 1 Juli 2020

Kedua pelaku yang berhasil diamankan yakni, MW (32) warga Jalan Kesambi Desa Lajing, Kecamatan Arosbaya Kabupaten Bangkalan Madura dan BP, (26) warga Jalan Kedinding Lor, Kecamatan Kenjeran, Surabaya.

Ditambahkan Zulham, kedua pelaku memang sengaja menawarkan kepada orang – orang yang ingin mendapatkan pekerjaan dengan syarat – syarat tertentu.

“Ada beberapa orang yang sudah kami periksa, dan saat ini masih kami lacak orang – orang yang telah menggunakan jasa kedua pelaku,” jelasnya.

Dijelaskan pula bahwa, tersangka BP berperan sebagai pencetak ijasah, sedangkan MW berperan yang menawarkan melalui media sosial.

Baca Juga :   Polda Jatim Perketat Pengamanan Penjagaan Pasca Insiden Bom di Medan

Keduanya diketahui melakukan perbuatannya sejak tahun 2019 dan telah mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 86 juta.

Sedangkan untuk cara memesan ijazah palsu dari pelaku, korban cukup menelfon tersangka BP dan memesan ijazah dengan hanya mengirimkan nama juga gelar yang diinginkan dan tidak ada identitas lengkap.

Atas perbuatannya, kedua tersangka akan dikenakan Pasal 35 Jo Pasal 51 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau Pasal 263 Jo Pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara.