Diskusi KMI: Papua Adalah Indonesia, Mari Kita Jaga Keutuhan NKRI


Jakarta – Kaukus Muda Indonesia (KMI) menggelar diskusi publik mengangkat tema, ” Mengupas Campur Tangan Asing Dalam Kerusuhan Papua”,  Hadir sebagai pembicara Hendrik Yance Udam Ketua Umum Gerakan Rakyat Cinta NKRI (Gercin – NKRI), Stanislaus Riyanto Pengamat Intelejen, Irma Chaniago politisi Partai Nasdem, Selasa (24/09).

Menurut Hendrik Yance Udam, Terjadinya kerusuhan di Papua karena otonomi daerah tidak dikelola dengan baik sehingga memberi celah bagi sekelompok orang untuk memicuh kerusuhan. Padahal tidak semua orang Papua suka kerusuhan atau menginginkan kemerdekaan. Pihak asing juga disinyalir turut memperkeruh keadaan dengan adanya propaganda negatif.

Sementara pengamat intelejen Stanislaus Riyanto menjelaskan bahwa konflik yang terjadi di Papua karena kurangnya peran diplomasi pemerintah, terutama kementerian luar negeri yang harus secepatnya melakukan langkah-langkah kongkrit untuk menyelesaikan konflik dan mengatasi hoax. Karena pada saat internet dimatikan informasi yang benar dari pemerintah tidak bisa diakses masyarakat.

BACA JUGA : Gubernur Minta UINSA Surabaya Mencari Metode Dakwah yang Efektif Menghadapi Era Post Truth Dan Disrupsi

Hal inilah yang dimanfaatkan pihak asing untuk melakukan propaganda tentang pelanggaran HAM. Keterlibatan pihak asing sekarang semakin halus dan nyaris tidak kelihatan seperti memberikan bea siswa pada anak muda Papua namun mereka juga sebenarnya memberi propaganda negatif tentang Indonesia. Oleh sebab itu pemerintah harus lebih meningkatkan peran intelejen.

Politisi Wanita dari Partai Nasdem Irma Chaniago berpendapat bahwa konflik di Papua terjadi akibat generasi mudanya tidak tahu sejarah mengapa Indonesia dan Papua berintegrasi.Dan pemerintah hingga saat ini tidak memasukkan kedalam kurikulum sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah. Banyak masyarakat yang belum sejahtera meski dana yang digelontorkan oleh pemerintah sekitar Rp 8,4 Trilyun.

“Ketimpangan ekonomi di Papua membuat Papua bergolak karena kelompok-kelompok tertentu menikmati dana Otsus sementara yang lainnya tidak mendapat apa-apa. Papua juga dikacaukan oleh politikus/elit-elit politik negeri kita sendiri akibat membuat opini yang meresahkan masyarakat. Mahasiswa Papua yang belajar di luar Papua juga sudah terpapar radikalisme, separatisme lalu pulang ke Papua dan menimbulkan konflik. Kecemburuan sosial juga terjadi akibat para pekerja di infrastruktur berasal dari daerah lain dan tidak melibatkan orang Papua,” ujar Hendrik Yance Udam.

“Pemerintah seharusnya lebih peduli pada masyarakat Papua. Seperti melibatkan masyarakat Papua untuk mengerjakan proyek infrastruktur. Memberi perhatian pada anak, cucu pejuang Pepera yang berjumlah sekitar 1000 orang. Pemerintah juga harus menghargai budaya Papua karena orang Papua walau bicaranya keras namun berhati lembut. Berilah informasi yang benar sehingga masyarakat Papua merasa menjadi bagian dari NKRI,” tegas Hendrik.  (fri)