Idul Fitri, Meningkatkah Kualitas Keimanan Kita?


Idul Fitri seharusnya menjadi puncak dari perjalanan spiritual setelah selama Ramadhan kita menjalankan puasa dan melaksanakan sejumlah ibadah lainnya yang mendapatkan keutamaan.

Di bulan-bulan lainnya kita disibukkan dengan berbagai hal yang menyita waktu dan pikiran sehingga eksistensi kita sebagai makhluk religius yang memiliki nilai-nilai spiritual terabaikan.

Sebenarnya, seberapa jauh kita telah mengembangkan aspek spiritualitas ini selama Ramadhan? Ini sebuah pertanyaan yang layak kita renungkan agar Ramadhan dan Idul Fitri tidak berlalu sekedar sebuah rutinitas tahunan. 

Islam mengajarkan bahwa kehidupan di dunia ini merupakan ladang untuk menanam amal, sementara kehidupan yang sejati adalah di akhirat. Apa yang kita lakukan di dunia ini diniatkan untuk beramal guna persiapan kehidupan selanjutnya. Sayangnya, banyak di antara kita terlenakan dengan beragam kemudahan yang tersedia berkat teknologi. 

Manusia menciptakan beragam alat untuk memudahkan hidupnya. Harapannya, semakin banyak waktu luang yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk hal-hal lain, termasuk untuk beribadah. Para inovator menciptakan sepeda, mobil, pesawat terbang, dan di masa depan ada jenis transportasi baru yang belum terbayangkan saat ini.

Alat pengirim pesan zaman dahulu adalah merpati pos, kemudian kurir, sistem pos, sampai kini muncul email dan media sosial. Capaian-capaian baru berjalan dengan sangat cepat sehingga apa yang kita rasa canggih dalam beberapa tahun lalu, kini sudah terasa kuno. 

Dengan beragamnya kemudahan ini, seharusnya manusia memiliki waktu yang semakin banyak untuk berhubungan dengan Tuhan. Tapi ternyata, bayangan ideal tersebut tidak tercapai. Tempat di mana kita bekerja menuntut pikiran dan waktu lebih banyak. Perusahaan atau institusi tempat bekerja memberi beban yang semakin banyak karena persaingan yang semakin ketat.

Kejayaan yang dinikmati hari ini bukan jaminan untuk dapat terus bertahan di masa mendatang. Betapa sekian banyak perusahaan yang sebelumnya berada dalam posisi puncak kemudian terpuruk atau bangkrut karena kalah bersaing. Para pekerja berada dalam posisi semakin tertekan dalam kompetisi yang ketat ini, untuk mengejar atau bahkan untuk sekedar bertahan.

Di sisi lain, konsumen yang memakai teknologi terus dimanjakan dengan beragam layanan dan hiburan yang tiada habisnya. Versi terbaru beragam layanan terus secara rutin diluncurkan untuk memanjakan konsumen. Perusahaan-perusahaan teknologi melibatkan para ahli psikologi dan pakar bidang lainya untuk memahami perilaku manusia dan bagaimana membuat mereka senang sehingga membeli produk-produknya. Karena di situlah keuntungan didapatkan.

Hiburan berbasis teknologi telah benar-benar menghipnotis manusia. Banyak orang menghabiskan lebih dari lima jam untuk berselancar di layar telepon cerdasnya untuk bermedia sosial, bermain gim, atau sekedar berselancar mencari berbagai informasi yang menarik. Saat berpuasa yang seharusnya dimanfaatkan untuk beragam ibadah, ternyata waktu yang digunakan untuk menghibur diri tidaklah berkurang. 

Begitulah kehidupan dari banyak orang. Pada satu sisi, disibukan dengan urusan pekerjaan yang sangat banyak dan menekan. Dan kemudian ketika lepas dari pekerjaan, waktunya dihabiskan dengan menghibur diri guna menghilangkan stress akibat pekerjaan. Sangat sedikit ruang yang diberikan untuk hal-hal lainnya, termasuk pengembangan sisi spiritualitasnya.

Dari sini, terlihat bahwa banyak orang terperangkap dalam lingkaran konsumerisme dan hedonisme yang menyebabkan hidupnya hanya berputar-putar dalam lingkaran pencarian uang dan harta yang kemudian digunakan untuk memenuhi keinginan mengkonsumsi sesuatu yang tiada habisnya.

Kekuatan dari promosi dan iklan yang mampu menghipnotis menusia untuk mengejar keinginan-keinginannya yang tak terbatas membuat hidup hanya mengejar sesuatu yang sebenarnya tak bermakna. Ukuran kualitas hidup hanya ditentukan oleh tingkat konsumsi yang sifatnya sangat materialistik, sementara tujuan-tujuan yang lebih transendental terabaikan. 

Tak mudah menjalankan puasa di era konsumerisme dan hedonisme. Banyak orang menjadi hanya sibuk memikirkan dan mengurusi hal-hal yang sifatnya permukaan sementara substansi yang diinginkan dari puasa tersebut menjadi tak tergapai. Kekuatan industri begitu kukuh mencengkeram dan mempengaruhi pikiran dan tindakan kita. Tak banyak yang mampu menolaknya. Mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjual produk dan jasanya.

Sebelum Ramadhan tiba pun, kita sudah disuguhi iklan sirup di televisi. Pusat-pusat perbelanjaan menggelar diskon Lebaran untuk menarik pelanggan. Kita digoda untuk sekedar memikirkan baju baru, kuliner, perjalanan liburan dan hal-hal lain yang tak terlalu terkait dari tujuan sebenarnya pelaksanaan puasa. 

Kini saatnya sejenak merenung dan berefleksi, akankah Ramadhan menjadi sekedar rutinitas yang tak mampu meningkatkan kualitas spiritual kita sementara usia kita bertambah dari tahun ke tahun. Jangan sampai, kita terlenakan, tertipu oleh hal-hal yang bukan substansial yang ditawarkan dengan cara yang sangat menarik kepada kita sehingga melupakan hal-hal yang menjadi inti tujuan hidup. Sesungguhnya,  betapapun sibuknya kita terkait urusan pekerjaan dan seberapapun sengitnya kompetisi yang harus kita hadapi, tak boleh melupakan makna dan tujuan hidup kita yang sebenarnya. (Achmad Mukafi Niam)